Rabu, 24 April 2019

Membangun (2)

Kali ini SantriKaila akam melanjutkan postingan malam lalu dengan judul "Membangun(1)".

Ketika kita membangun pola pikir, banyak yang harus kita perhatikan. Dan hal paling utama yang a Milki ajarkan dalam membangun pola pikir adalah, kita harus menyadari bahwa pola pikir kita itu salah. Mengapa demikian?

Pada intinya, apabila kita tidak menyadari suatu kesalahan, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah mau memperbaikinya. Ibaratnya sebuah sepeda motor. Ketika kita terus memakainya tanpa mengecek kondisi sepeda motor itu, kita akan merasa motor itu baik-baik saja. Hingga akhirnya, tanpa kita sadari motor itu telah mengalami kerusakan yang berat.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk menyadari kesalahan pada pola pikir kita.

Dengan begitu, kita bisa mulai memperbaki pola pikir kita dengan pola pikir yang baru agar kelak diri kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Sekian postingan kali ini, semoga bermanfaat, see ya😉

Senin, 22 April 2019

Membangun (1)

Selamat pagi ^_^
Kali ini SantriKaila akan memaparkan pembahasan A Milki dengan tema bagaimana kita membangun diri untuk masa depan.

A Milli menjelskan, jika kita ingin berkontribusi dalam memajukan negara tercinta kita, maka yang harus terjadi adalah kita mulai fokus untuk membangun diri kita sendiri. Bukan hanya dalam rangka memenuhi panggilan kebangsaan, tentu dengan membangun diri sudah berarti kita bisa membuat masa depat kita agar kelak semakin cerah.

Lantas, apa langkah awal kita dalam membangun diri? Atau bisa pula dikatakan, apa tindakan pertama kita untuk bisa merubah diri sendiri.
A Milki menjawabnya melalui salah satu program yang beliau hadirkan yaitu "Moeslim Mindset On Stage" yang digelar tanggal 20 Januari 2019 kemarin.

Langkah pertama yang perlu diambil adalah dengan mengubah pola pikir kita. Kenapa harus pola pikir? Harus kita sadari bahwa segala ucapan kita, segala tindakan kita, dan segala keputusan yang kita ambil itu adalah akibat dari pola pikir kita. Pola pikir kita mengatakan A, maka tindakan kita adalah A. Karena pola pikir adalah cara berfikir dan cara pandang seseorang terhadao sesuatu, dan pasti ia yakini kebenarannya.

Contohnya, sejak kecil kita telah ditanamkan pola pikir bahwa api itu panas. Maka yang terjadi dalam kehidupan kita adalah, kita tidak akan pernah bermain-main dengan yang namanya panas api. Kita akan selalu berhati-hati ketika ada api. Mengapa? Karena pola pikir kita akan selalu mengingatkan bahwa api bisa mencelakai kulit kita. Maka dengan begitu, pola pikir adalah sesuatu yang sangat penting yang mempengaruhi masa depan kita.

Lantas, bagaimana cara kita untuk menanamkan suatu pola pikir yang baru agar kita bisa mulai merubah dan membangun diri kita?

Berlanjut di postingan selanjutnya ya, see you☺

Kamis, 28 Juni 2018

5 Days with Kaila - 5

Review  Kaila 5 Days - Hari Kelima
- Manusia melakukan suatu perintah itu bukan karena perintahnya, melainkan karena siapa yang memerintahkannya. Contohnya, ketika seorang Mahasiswa ketika diberi tugas oleh dosennya untuk mengerjakan seratus soal sekalipun, maka niscaya ia akan mengerjakannya. Meskipun dengan rasa terpaksa karena ia merasakan beratnya tugas tersebut, namun pada akhirnya ia akan menerimanya karena ia tahu kehendak dosen itu sangat berpengaruh dalam karir kuliahnya. Maka tidak jarang ada orang yang melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan, namun ia mengerjakannya. Padahal hakikatnya, manusia itu pasti lebih mengutamakan untuk mengerjakan perintah atau keinginan diri sendiri. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita merasa berat untuk mengerjakan sholat, karena kenginan kita adalah santai-santai dan bermalas ria. Namun ketika kita tahu siapa yang memerintahkannya apalagi mengenalinya, kita akan bisa menyingkirkan keinginan kita itu yang merupakan bagian dari nafsu kita untuk kemudian kita mengerjakan sholat dengan ikhlas. Namun, bagaimana caranya untuk mengendalikan nafsu adalah dengan memahami ilmu agama dan membentenginya dengan pola pikir yang kuat. Jadi benar, bahwa kita ini mengerjakan sesuatu bukan karena perintahnya, namun siapa yang memerintahkannya. Tidak heran pula ketika muncul perintah atas kenginan seseorang sedangkan ia sendiri tahu itu dosa, ia tetap mengerjakannya. Karena pola pikirnya mengatakan bahwa perintahnya sendirilah yang akan membahagiakan dia, sedang ia tidak mengenal sang Maha Pemberi Kebahagiaan. Jika saja pola pikir kita bersesuaian dengan apa yang Allah perintahkan, maka hidup kita akan sempurna.
- Perintah Allah sebenarnya akan sesuai apa yang manusia butuhkan, karena kita adalah ciptaan-Nya sedangkan seorang Pencipta pasti tahu apa-apa saja mengenai seluk beluk ciptaannya. Namun manusia sendiri tidak tahu, yang ia miliki hanya nafsu yang perlu dikendalikan, yaitu oleh akal atau lebih tepatnya melalui pola pikir kita. Kita tidak menyadari itu, maka akan berbahaya bagi kita ketika pola pikir kita tidak bersesuaian dengan apa yang Allah inginkan. Karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita harus kerjakan.
- Kita akan senang mengerjakan suatu perintah ketika kita menyenangi siapa yang memerintahkannya. Malah yang awalnya ia tidak menyukai perintah itu, justru malah bersemangat untuk mengerjakannya. Contohnya ketika seorang lelaki yang diminta untuk menjemput seorang wanita, sedangkan kebetulan ia menyukainya, maka hujan badai, banjir gelap pun akan ia lalui demi kesenangan yang sebenarnya menyusahkan dirinya sendiri. Karena yang diinginkannya hanya satu, yaitu dekat dengan wanita itu. Maka di sinilah kata kuncinya, ketika kita ingin dekat kita pasti akan berani melakukan apapun, meskipun hal itu tidak kita sukai. Maka motivasi para ulama untuk tetap giat beribadah adalah senang ketika ia dekat dengan Allah. Masalahnya, sebelum senang atau cinta itu harus dekat terlebih dahulu. Dan kita tidak bisa dekat sebelum mengenalinya. Kita bisa mengenali Allah melalui ilmu agama. Maka dari itu, ilmu agama adalah titik utama dimana kita bisa mengenali, mendekati, dan mencintai Allah. Sebenarnya, banyak syarat mengenai hal itu. Namun syarat utamanya adalah sesuai dengan ilmunya, seirama dengan permasalah no 2 tadi. Bahwa ilmu yang didapatkan haruslah terstruktur dan sistematis.
- Semakin kita mengenali Allah dengan ilmu, semakin kita akan senang menjalankan perintah Allah. Karena kita semua tahu bahwa Allah itu tuhan kita, tapi kita tidak tahu Allah itu seperti apa. Maka kita harus mengenali-Nya agar kita metakini-Nya juga semua perintah-Nya, yakni kembali dengan ilmu agama, dam memprioritaskannya sesuai dengan apa yang dibahas di permasalahan no. 1. Kemudian ilmu itu harus terstruktur dan sistematis, barulah permasalahan no. 3 ini dapat terpecahkan dan sedikit demi sedikit mengenali-Nya.

- Manusia tidak memiliki hak sedikitpun terhadap Allah. Tapi sebaliknya, Allah memiliki hak sepenuhnya atas makhluk. Inilah bahayamya ketika kita tidak mengetahui, kita justru seperti memerintah Allah untuk mengijabah do'a kita. Buktinya, ketika do'a kita tidak kunjung diijabah, kita merasa emosi. Padahal sebaliknya pula, Allah menyuruh kita untuk berdo'a kepadanya karena kita tidak bisa melakukan apapun.
- Tidak ada yang lebih menyayangi suatu barang selain pemiliknya. Tidak mungkin pencipta mencaci apalagi merusak ciptaannya. Makanya ketika kita membunuh seorang makhluk-Nya yang tak berdosa, maka sama dengan kita telah membunuh semua makhluk. Intinya, Allah saja tidak suka bila makhluknya disakiti. Oleh karena itu, Allah memberikan petunjuknya. Makanya, orang yang tidak menaati perintah Allah pasti akan sengsara. Itulah keadilan yang diberikan Allah. Berbeda dengan menaati perintah keinginan kita sendiri, belum tentu hal itu akan melindungi kita, atau menyelamatkan dan membahagiakan kita. Justru apapun pemberian Allah kepada kita meski tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, harus kita syukuri karena Allah tahu yang paling tepat bagi makhluk-Nya. Meskipun janji Allah yang akan mengabulkan do'a makhlukNya, tetaplah itu hanya sebuah jalan yang Allah buat agar manusia sadar dan hanya meminta kepadaNya, masalah jadi atau tidaknya itu keputusan Allah, malah agar manusia lebih dapat mendekati-Nya dengan semakin panjangnya wirid dan dzikir yang ia ucapkan. Wallahu a'lam.

Senin, 25 Juni 2018

5 Days with Kaila - 4

Review 5 Days, Hari Keempat
- Semua adalah kekuasaan Allah. Karena nyatanya, hasil itu tidak selalu sesuai dengan proses. Buktinya, apa yang kita rencanakan dan kerjakan tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Yang bisa harus kita lakukan hanyalah menerima lalu bersabar dan bersyukur bagaimanapun hasilnya. Masalah terjadi ketika kita tidak tahu semua itu, sehingga timbul rasa kecewa dan putus asa ketika mengalami kegagalan maupun rasa senang berlebihan dan bersombong ria ketika mengalami keberhasilan. Malah jika kita kufur atas suatu nikmat, sedang kita tidak ingat siapa yang memberikannya, maka Allah hantamkan kepada kita adzab yang tidak terkira. Begitulah jika kita bodoh akan ilmu agama, namun tidak mempedulikannyam alangkah baiknya jika kita menyadarinya dan mulai meyakini pentingnya ilmu agama hingga kita siap untuk menimbanya walau sampai kita masuk ke liang lahat.
- Permasalahan yang kedua adalah ketika ilmu agama tidak terstruktur dan tidak sistematis. Ilmu agama yang kita cari haruslah terstruktur dan sistematis. Ketika semangat mengaji membara, tapi tanpa strukturnya maka akan sesat. Seperti kata pepatah kita harus kembali kepada Qurdis, yang telah dijelaskan sebelumnya, maka kita harus memiliki ulama panutan karena merekalah yang memiliki fondasi atas lebih paham atas ilmu agama. Oleh karena itu, mazhab kita adalah fondasi kita. Karena teratruktur artinya Ilmu yang kita pelajari sampai kepada Rasulullah saw., sedangkan ulama adalah pewaris para Nabi. Artinya yang terpenting adalah ulama kita adalah ulama yang sampai ilmunya kepada Nabi, yakni ulama mazhab.
- Selain itu Ilmu juga harus sistematis, yaitu dimulai dari yang paling dasar dan disesuaikan secara bertahap. Dalam mempelajari ilmu agama itu sangat berbeda dengan mempelajari ilmu lainnya. Karena dalam ilmu agama, untuk mempelajari ilmunya saja ada ilmu untuk mempelajarinya. Bahkan untuk menjadi pelajar saja, menurut Imam Ghazali r.a. itu ada 10 syarat yang harus dipenuhi. Tahapannyapun berbeda, ketika telah paham belum tentu kita dapat mengaplikasikannya. Karena sebenarnya tujuan utama dari ilmu agama itu bukan pintar dan tidaknya, akan tetapi apakah ilmu itu membuat kita lebih dekat dengan Allah atau tidak. Intinya, dalam mempelajari Ilmu agama itu harus bertahap dan tidak terburu-buru, dan sambil berjalan kita mengamalkannya sedikit demi sedikit.
- "Sebaik-baiknya manusia adalah diriku. Kemudian setelahku (para sahabat), kemudian setelahku (para tabi'in)." Artinya, para ulama mazhab yang termasuk golongan tabi'in tentunya lebih dipercaya, karena lebih dekat jaraknya dengan Rasulullah, apalagi sahabat. Maka para ulama ahli hadits seperti Bukhori dan Muslimpun mengikuti para ulama mazhab tersebut. Oleh karena itu, jika ada orang yang menyesatkan ulama mazhab dan irang yang bermazhab, sungguh dialah yang sesat.

5 Days with Kaila - 3

Review 5 Days, Hari Ketiga
- Al-Qur'an dapat terjaga keasliannya sampai sekarang karena atas firman Allah sendiri, Allah-lah yang menjaganya. Namun wasilahnya adalah tangan-tangan para penulis Al-Qur'an dari zaman Zaid bin Sabit sampai adanya Mushaf Utsmani dan Imam Hafs. Begitu pula para ulama, merekalah penyampai ilmu dari Rasulullah. Malah, mereka merangkai ilmu dari Al-Qur'an dan Hadits yang masih berceceran tersebut menjadi lebih rapi di dalam kitab kuningnya yang pas dan enak dikonsumsi bagi umat selanjutnya. Karena para ulama tersebut diberi pemahaman dan keutamaan dari Allah. Makanya, jika ada pepatah kembali kepada Qur'an dan Hadits, maka maksudnya adalah kembali mengikuti para ulama ahli Al-Qur'an dan Al-Hadits. Karena merekalah sumber dari ilmu agama yang harus kita anggap pentung untuk dipahami.
- Pada realitasnya, kita belum menganggap bahwa ilmu agama itu penting. Buktinya, kita tidak memprioritaskan kegiatan kita sehari-hari untuk ilmu agama. Padahal firman Allah menjelaskan, akhirat jauh lebih utama dibanding dunia. Tidak sedikit juga dari kita yang tahu, bahwa ketika mengejat akhirat maka duniapun akan datang kepada kita. Maka, pola pikir kita harus menganggap bahwa ilmu agama itu penting guna bekal keakhiratan kita.
- Ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, berkat siapakah itu? Jika menganggap berkat diri kita yang melakukannya, gagal pahamlah kita. Sesungguhnya semua hal yang terjadi adalah atas kekuasaan Allah. Baik kebahagiaan maupun kesengsaraan. Inilah salah-satu bahaya jika tidak memprioritaskan ilmu agama.  Kita tidak akan tahu bahwa Allah itu Maha Kuasa. Akibatnya, kita akan menyombongkan diri ketika berhasil dan akan putus asa ketika gagal.
- Manuaia itu pasti berubah, masalahnya ke arah mana perubahan tersebut. Bila saja kita memprioritaskan ilmu agama, kita akan senantiasa berada di dalam jalur Kajian Islam. Kita tidak akan berani meninggalkannya, malah ilmu kita akan terus bertambah. Sebuah riwayat mengatalan bahwa ilmu itu yazidu wa yankusu. Jika prioritas kita ilmu agama, maka ketika iman kita turun kita akan kembali ke kajian Islam. Sebaliknya, jika tidak kembali pada kajian Islam, maka kita akan dilumat kesenangan dunia seperti game, film, mabuk, judi, dan lain sebagainya. Ini yang terjadi ketika tidak memprioritaskan ilmj agama, prioritas kita menjadi tak terarah sehingga digerus generask tik tok.
- Ketika do'a kita tidak cepat diijabah oleh Allah, maka ada dua kemungkinan. Pertama adalah karena dosa-dosa kita, maka solusinya adalah bertaubat. Kedua Allah sengaja menunda do'a kita agar kita senantiasa dekat dan berdo'a kepada-Nya. Karena sebenarnya itulah inti dari do'a, yaitu kita dekat dengan amal dan ucapan zikir kita pada-Nya.
- Kita tidak memprioritaskan ilmu agama karena kita tidak merasakan manfaatnya secara langsung. Padahal, semua hal di dunia tidaklah lepas dari ilmu agama. Ilmu agama tidak kita kejar karena karena tidak dianggap sebagai solusi dari setiap masalah. Berbeda dengan bimbel yang dikejar walau sampai larut malam, karena manfaatnya terasa ketika lebih pandai dalam mengerjakan soal. Padahal, bisa mengerjakannya itu oleh ilmu agama, bukan karena bimbel. Karena ilmu agama adalah petunjuk hidup yang Allah siapkan, melalui Al-Qur'an dan Hadits.
- Kita tidak mungkin hidup tanpa adanya petunjuk. Ibarat tersesat di negeri orang, kita tidak akan pernah tahu jalan pulang tanpa adanya peta. Tanpa peta tersebut kita tidak akan sampai pada tujuan. Begitupun hidup di dunia ini, Al-Qur'an dan Al-Hadits adalah petunjuk yang Allah persiapkan bagi manusia. Sedangkan, bagaimana cara kita untuk bisa memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits jika tidak memiliki ilmunya, yaitu ilmu agama. Peta saja ada petinjuk pemakaiannya, apalagi ini firman Allah. Petunjuk hidup kita bersumber dari sana, maka ilmu agama adalah rincian dan penjelasannya. Maka hendaklah dijadikan sebagai pedoman dalam berjalan melalui ilmu agama tersebut. Agar kelak kita bisa hidup sesuai dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Namun bagaimana kita bisa memahami pedoman itu bila mencarinya saja masih malas, ketika kita tidak memprioritaskannya.

Minggu, 24 Juni 2018

5 Days with Kaila - 2

Review 5 Days - Hari Kedua
- Ilmu agama tidak hanya sebatas tulisan, tapi juga harus masuk ke dalam realita sehari-hari. Ilmu agama juga bukan hanya perintah pula, namun juga berisi keutamaan, sumber, rasa, dan lain sebagainya. Maka dari itu, ilmu harus ditulis, dipahami, dikerjakan, dan dirasakan.
- Hal pertama untuk mengetahui sumber masalah adalah dengan menganalisa diri. Dengan itu, kita dapat mengetahui tingkah laku kita yang berasal dari pola pikir kita. Kita harus mengakui bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. Maka dari itu, kita pasti menemuka adanya masalah dalam diri kita, harus kita sadari dan akui itu. Karena kita tidak akan pernah memperbaiki kesalahan jika kita tidak sadar ada yang rusak apalagi tidak diakui. Masalahnya, tidak ada manusia yang pada hakikatnya mau menerima dirinya salah. Itu karena salah satu sifat Ilahiah yang Allah tanamkan dalam diri manusia, yaitu sombong.
- Ketika manusia merasa benar, maka kita tak akan merasa ada kecacatan dalam diri kita. Maka ketika ada yang menyalahkan kita, kita tak akan menerimanya. Hasilnya, kita tidak akan pernah bisa merubah diri kita untuk menjadi lebih baik lagi.  Kalaupun kita merasa benar, benar itu menurut perspektif yang mana? Apakah perspektif diri kita sendiri? Tentunya itu salah, karena pasti akan berbeda dengan perspektif orang lain. Pun belum tentu seirama dengan perspektif Yang Maha Benar, Allah swt. Sedangkan manusia itu sendiri tidak tahu mana yang benar, maka kita hatus mengikuti perspektif-Nya, yaitu benar yang menuntun kepada taqwa. Seandainya kita merasa diri kita salah, tentu kita akan dengan mudah menerima anjuran dan nasihat orang lain, sehingga kita dapat menyadari letak kesalahan kita dan dengan cepat memperbaikinya. Maka dari itu, sifat tawadhu atau rendah hati adalah sifat yang harus dimiliki jika ingin memperbaiki pola pikir dam tingkah laku kita.
- Kita harus menganggap diri kita ini salah, karena memang hakikatnya manusia ini tak bisa apa-apa. Buktinya, tidak semua keinginan kita itu dapat kita capai. Padahal, jika kita memiliki kuasa, tentulah semua keinginan kita itu dapat kita penuhi. Ini menunjukan bukan manusialah yang memiliki kekuasaan, melakkan Allah yang memperlihatkan kekuasaan ada di tangan-Nya. Oleh karena itu, cara agar kekuasaan Allah datang pada kita yaitu dengan menerima bahwa kita ini tidak bisa apa-apa, yakni bertawadhu. Cara agar kita dapat bertawadhu yakni dengan paham ilmu agama. Karena dengan paham ilmu agama artinya Allah sedang mengarahkan kita menuju arah yang benar, arah yang kita cari-cari. Artinya, kita harus berusaha memahami ilmu agama dengan cara mengkajinya. Berarti, pola pikir kita saat ini harus memprioritaskan mengkaji ilmu agama.
-  Karena Permasalahan umat muslim yang pertama adalah tidak menganggap bahwa ilmu agama itu penting. Hal ini harus kita akui ketika kita tidak merasakan manfaat dari ilmu agama sehingga tidak menganggapnya begitu penting. Buktinya, banyak waktu kita habiskan untuk sekolah, game, organisasi, dan lainnya sedangkan majelis ta'lim kita tinggalkan kosong melompong. Padahal, semakin bertambah usia semakin pelik masalah kita. Semakin butuh kita terhadap formula solusinya. Semakin kita membutuhkan majelis ta'lim guna memperkuat ilmu agama untuk memperbaiki pola pikir dan tingkah laku kita. Sehingga perlahan masalah yang bersumber dari pola pikir kita dapat dituntaskan.
- Kewajiban yang dikerjakan dan telah menjadi pola pkkir akan menjadi kebutuhan. Di mana kebutuhan itu akan menjadi kesenangan ketika mengerjakannya. Jika hal itu terjadi, tentu akan berbeda kualitasnya dengan orang yang menjalanjnya dengan terpaksa. Oleh karena itu, kita harus menyenangi ilmu agama dan menyenangi kajian. Dengan begitu, kita tidak akan absen dalam memelihara dan mengupgrade pola pikir kita dan hasinya tingkah laku kita akan semakin baik. Namun, tetap manusia tiada punya daya apa-apa. Maka, bagai gelas yang masih kosong hendaklah kita berdo'a dan meminta kepada yang Maha Kuasa agar kelak diberi kekuatan kekuasaan-Nya.

5 Days With Kaila - 1

Review 5 Days - Hari Pertama
- Setiap orang akan menghadapi masalah. Permasalahan tersebut timbul baik karena ujian dari Allah maupun dosa-dosa kita. Masalah akan muncul seiring berjalannya waktu dan pasti berbeda antara seseorang dengan orang lainnya. Dua orang yang berbeda tersebut tidak bisa menggunakan formula yang sama untuk memecahkan masing-masing masalah karena sudah jelas masalah mereka pasti tidak sama.
- Semakin sulit masalah yang dihadapi, maka akan semakin banyak pula formula yang dipakai. Satu formula tidak bisa dipakai untuk memecahkan dua masalah yang berbeda, seperti yang telah dikatakan tadi. Misalnya, kesabaran seseorang yang kakinya tersandung batu tentu akan berbeda dengan kesabaran seseorang yang tercebur ke kali. Orang yang tercebur ke kali harus memiliki kesabaran yang lebih tinggi tentunya, sebab masalah yang ia hadapi lebih berat dari orang yang tersandung kakinya.
- Namun setiap masalah sebagaimanapun rumitnya pasti ada sumber masalahnya. Di mana ketika sumber masalah tersebut diobati, maka masalah kecil lainnya dapat teratasi. Contohnya, ketika seseorang mendapati masalah pada nilai Kimianya yang selalu jelek. Hal tersebut terjadi ketika ia tidak bisa mengerjakan soal-soal Kimia, karena tidak tahu cara mengerjakan soal-soal kimia. Dikatakanlah bahwa ia tidak memiliki ilmu Kimia yang cukup. Bagaimana ia bisa memiliki ilmu Kimia, karena ternyata ia malas untuk belajar Kimia. Maka ditemukanlah bahwa sumber masalah sebenarnya adalah ia tidak mau belajar sehingga mendapat nilai Kimia yang jelek. Senadainya ia tidak malas untuk belahar Kimia, tentulah nilai yang ia dapatkan akan bagus. Bahkan, semakin berkualitas belajarnya, semakin jago ia mengerjakan soal tersebut. Sedangkan jika tidak ada titik perubaha untuk mengatasi rasa malasnya, maka masalah-masalah pelik lainnya akan muncul seperti misalnya, mencontek jawaban orang lain. Jadi, sumber masalah tersebut pada dasarnya adalah Diri Kita.
- Salah satu sumber masalah pada diri kita adalah masalah pada Pola Pikir kita. Seperti halnya tadi, seandainya pola pikir kita mengatakan bahwa belajar Kimia itu penting dan menyenangkan, tentunya ia akan banyak-banyak belajar sehingga dengan mudah iamampu mengerjakan banyak soal Kimia seperti halnya semut yang menyerbu gula. Mengapa terjadi demikian? Karena pola pikir kita adalah alur atau dasar kita dalam berfikir dan pasti kita yakini kebenarannya. Pola pikir tersebut telah dibentuk sekian lama sehingga menjadi pola kegiatan sehari-hari dan dasar pikiran dalah memprioritaskan sesuatu. Oleh karena itu, bagaimana pola pikir kita terhadap sholat, mengaji, hal-hal makruh dan hal tidak berguna, akan tercermin kedalam gerakan sehari-hari kita. Termasuk apa yang kita priritaskan dalam menentukan sesuatu. Oleh karena itu, sangan penting bagi kita untuk memperbaiki pola pikir kita agar kita tidak menghadapi masalah terpelik dalam hidup kita yang nanti.
- Pola pikir kita bisa kita ubah, namun tidak dengan tergesa-gesa. Terdapat cara dan tahapannya. Yakni bahwa pola pikir itu tergantung pada apa yang kita kaji saat ini. Ketika pola pikir dibentuk oleh kajian yang keras dan radikal, maka jadilah ia orang yang keras dan radikal. Namun jika di kemudian hari ia mendapai dirinya dalam kajian yang santai dan lembut, maka jadilah akhlaknya seperti orang yang lembut dan pemaaf. Sama seperti terjadinya musim durian di suatu kampung, maka ramai-ramai orang akan menjual durian dan melupakan rambutan yang mhsimnya telah lewat. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memiliki dasar pola pikir yang sehat. Yakni pola pikir yang Rasulullah saw ajarkan kepada para sahabat, kemudian diajarkan kembali kepada para tabi'in, kemudian ke tabit-tabi'in, ulama salafus shalih, hingga ulama kita di akhir zaman ini. Beliau mengajarkan untuk lemah lembut dan pemaaf. Beljau juga memberikan akhlak yang baik sehingga menarik kafir menjadi muslim, tidak sebaliknya. Imam Ghazali r.a. pun demikian. Karenanya, untuk meng-Islamkan atau sekedar bermanfaat, bukanlah dengan cara menyalahkan atau mengharamkan, namun dengan budi pekerti yang baik.
-