Minggu, 24 Juni 2018

5 Days with Kaila - 2

Review 5 Days - Hari Kedua
- Ilmu agama tidak hanya sebatas tulisan, tapi juga harus masuk ke dalam realita sehari-hari. Ilmu agama juga bukan hanya perintah pula, namun juga berisi keutamaan, sumber, rasa, dan lain sebagainya. Maka dari itu, ilmu harus ditulis, dipahami, dikerjakan, dan dirasakan.
- Hal pertama untuk mengetahui sumber masalah adalah dengan menganalisa diri. Dengan itu, kita dapat mengetahui tingkah laku kita yang berasal dari pola pikir kita. Kita harus mengakui bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. Maka dari itu, kita pasti menemuka adanya masalah dalam diri kita, harus kita sadari dan akui itu. Karena kita tidak akan pernah memperbaiki kesalahan jika kita tidak sadar ada yang rusak apalagi tidak diakui. Masalahnya, tidak ada manusia yang pada hakikatnya mau menerima dirinya salah. Itu karena salah satu sifat Ilahiah yang Allah tanamkan dalam diri manusia, yaitu sombong.
- Ketika manusia merasa benar, maka kita tak akan merasa ada kecacatan dalam diri kita. Maka ketika ada yang menyalahkan kita, kita tak akan menerimanya. Hasilnya, kita tidak akan pernah bisa merubah diri kita untuk menjadi lebih baik lagi.  Kalaupun kita merasa benar, benar itu menurut perspektif yang mana? Apakah perspektif diri kita sendiri? Tentunya itu salah, karena pasti akan berbeda dengan perspektif orang lain. Pun belum tentu seirama dengan perspektif Yang Maha Benar, Allah swt. Sedangkan manusia itu sendiri tidak tahu mana yang benar, maka kita hatus mengikuti perspektif-Nya, yaitu benar yang menuntun kepada taqwa. Seandainya kita merasa diri kita salah, tentu kita akan dengan mudah menerima anjuran dan nasihat orang lain, sehingga kita dapat menyadari letak kesalahan kita dan dengan cepat memperbaikinya. Maka dari itu, sifat tawadhu atau rendah hati adalah sifat yang harus dimiliki jika ingin memperbaiki pola pikir dam tingkah laku kita.
- Kita harus menganggap diri kita ini salah, karena memang hakikatnya manusia ini tak bisa apa-apa. Buktinya, tidak semua keinginan kita itu dapat kita capai. Padahal, jika kita memiliki kuasa, tentulah semua keinginan kita itu dapat kita penuhi. Ini menunjukan bukan manusialah yang memiliki kekuasaan, melakkan Allah yang memperlihatkan kekuasaan ada di tangan-Nya. Oleh karena itu, cara agar kekuasaan Allah datang pada kita yaitu dengan menerima bahwa kita ini tidak bisa apa-apa, yakni bertawadhu. Cara agar kita dapat bertawadhu yakni dengan paham ilmu agama. Karena dengan paham ilmu agama artinya Allah sedang mengarahkan kita menuju arah yang benar, arah yang kita cari-cari. Artinya, kita harus berusaha memahami ilmu agama dengan cara mengkajinya. Berarti, pola pikir kita saat ini harus memprioritaskan mengkaji ilmu agama.
-  Karena Permasalahan umat muslim yang pertama adalah tidak menganggap bahwa ilmu agama itu penting. Hal ini harus kita akui ketika kita tidak merasakan manfaat dari ilmu agama sehingga tidak menganggapnya begitu penting. Buktinya, banyak waktu kita habiskan untuk sekolah, game, organisasi, dan lainnya sedangkan majelis ta'lim kita tinggalkan kosong melompong. Padahal, semakin bertambah usia semakin pelik masalah kita. Semakin butuh kita terhadap formula solusinya. Semakin kita membutuhkan majelis ta'lim guna memperkuat ilmu agama untuk memperbaiki pola pikir dan tingkah laku kita. Sehingga perlahan masalah yang bersumber dari pola pikir kita dapat dituntaskan.
- Kewajiban yang dikerjakan dan telah menjadi pola pkkir akan menjadi kebutuhan. Di mana kebutuhan itu akan menjadi kesenangan ketika mengerjakannya. Jika hal itu terjadi, tentu akan berbeda kualitasnya dengan orang yang menjalanjnya dengan terpaksa. Oleh karena itu, kita harus menyenangi ilmu agama dan menyenangi kajian. Dengan begitu, kita tidak akan absen dalam memelihara dan mengupgrade pola pikir kita dan hasinya tingkah laku kita akan semakin baik. Namun, tetap manusia tiada punya daya apa-apa. Maka, bagai gelas yang masih kosong hendaklah kita berdo'a dan meminta kepada yang Maha Kuasa agar kelak diberi kekuatan kekuasaan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar