Minggu, 24 Juni 2018

5 Days With Kaila - 1

Review 5 Days - Hari Pertama
- Setiap orang akan menghadapi masalah. Permasalahan tersebut timbul baik karena ujian dari Allah maupun dosa-dosa kita. Masalah akan muncul seiring berjalannya waktu dan pasti berbeda antara seseorang dengan orang lainnya. Dua orang yang berbeda tersebut tidak bisa menggunakan formula yang sama untuk memecahkan masing-masing masalah karena sudah jelas masalah mereka pasti tidak sama.
- Semakin sulit masalah yang dihadapi, maka akan semakin banyak pula formula yang dipakai. Satu formula tidak bisa dipakai untuk memecahkan dua masalah yang berbeda, seperti yang telah dikatakan tadi. Misalnya, kesabaran seseorang yang kakinya tersandung batu tentu akan berbeda dengan kesabaran seseorang yang tercebur ke kali. Orang yang tercebur ke kali harus memiliki kesabaran yang lebih tinggi tentunya, sebab masalah yang ia hadapi lebih berat dari orang yang tersandung kakinya.
- Namun setiap masalah sebagaimanapun rumitnya pasti ada sumber masalahnya. Di mana ketika sumber masalah tersebut diobati, maka masalah kecil lainnya dapat teratasi. Contohnya, ketika seseorang mendapati masalah pada nilai Kimianya yang selalu jelek. Hal tersebut terjadi ketika ia tidak bisa mengerjakan soal-soal Kimia, karena tidak tahu cara mengerjakan soal-soal kimia. Dikatakanlah bahwa ia tidak memiliki ilmu Kimia yang cukup. Bagaimana ia bisa memiliki ilmu Kimia, karena ternyata ia malas untuk belajar Kimia. Maka ditemukanlah bahwa sumber masalah sebenarnya adalah ia tidak mau belajar sehingga mendapat nilai Kimia yang jelek. Senadainya ia tidak malas untuk belahar Kimia, tentulah nilai yang ia dapatkan akan bagus. Bahkan, semakin berkualitas belajarnya, semakin jago ia mengerjakan soal tersebut. Sedangkan jika tidak ada titik perubaha untuk mengatasi rasa malasnya, maka masalah-masalah pelik lainnya akan muncul seperti misalnya, mencontek jawaban orang lain. Jadi, sumber masalah tersebut pada dasarnya adalah Diri Kita.
- Salah satu sumber masalah pada diri kita adalah masalah pada Pola Pikir kita. Seperti halnya tadi, seandainya pola pikir kita mengatakan bahwa belajar Kimia itu penting dan menyenangkan, tentunya ia akan banyak-banyak belajar sehingga dengan mudah iamampu mengerjakan banyak soal Kimia seperti halnya semut yang menyerbu gula. Mengapa terjadi demikian? Karena pola pikir kita adalah alur atau dasar kita dalam berfikir dan pasti kita yakini kebenarannya. Pola pikir tersebut telah dibentuk sekian lama sehingga menjadi pola kegiatan sehari-hari dan dasar pikiran dalah memprioritaskan sesuatu. Oleh karena itu, bagaimana pola pikir kita terhadap sholat, mengaji, hal-hal makruh dan hal tidak berguna, akan tercermin kedalam gerakan sehari-hari kita. Termasuk apa yang kita priritaskan dalam menentukan sesuatu. Oleh karena itu, sangan penting bagi kita untuk memperbaiki pola pikir kita agar kita tidak menghadapi masalah terpelik dalam hidup kita yang nanti.
- Pola pikir kita bisa kita ubah, namun tidak dengan tergesa-gesa. Terdapat cara dan tahapannya. Yakni bahwa pola pikir itu tergantung pada apa yang kita kaji saat ini. Ketika pola pikir dibentuk oleh kajian yang keras dan radikal, maka jadilah ia orang yang keras dan radikal. Namun jika di kemudian hari ia mendapai dirinya dalam kajian yang santai dan lembut, maka jadilah akhlaknya seperti orang yang lembut dan pemaaf. Sama seperti terjadinya musim durian di suatu kampung, maka ramai-ramai orang akan menjual durian dan melupakan rambutan yang mhsimnya telah lewat. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memiliki dasar pola pikir yang sehat. Yakni pola pikir yang Rasulullah saw ajarkan kepada para sahabat, kemudian diajarkan kembali kepada para tabi'in, kemudian ke tabit-tabi'in, ulama salafus shalih, hingga ulama kita di akhir zaman ini. Beliau mengajarkan untuk lemah lembut dan pemaaf. Beljau juga memberikan akhlak yang baik sehingga menarik kafir menjadi muslim, tidak sebaliknya. Imam Ghazali r.a. pun demikian. Karenanya, untuk meng-Islamkan atau sekedar bermanfaat, bukanlah dengan cara menyalahkan atau mengharamkan, namun dengan budi pekerti yang baik.
-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar