Senin, 25 Juni 2018

5 Days with Kaila - 3

Review 5 Days, Hari Ketiga
- Al-Qur'an dapat terjaga keasliannya sampai sekarang karena atas firman Allah sendiri, Allah-lah yang menjaganya. Namun wasilahnya adalah tangan-tangan para penulis Al-Qur'an dari zaman Zaid bin Sabit sampai adanya Mushaf Utsmani dan Imam Hafs. Begitu pula para ulama, merekalah penyampai ilmu dari Rasulullah. Malah, mereka merangkai ilmu dari Al-Qur'an dan Hadits yang masih berceceran tersebut menjadi lebih rapi di dalam kitab kuningnya yang pas dan enak dikonsumsi bagi umat selanjutnya. Karena para ulama tersebut diberi pemahaman dan keutamaan dari Allah. Makanya, jika ada pepatah kembali kepada Qur'an dan Hadits, maka maksudnya adalah kembali mengikuti para ulama ahli Al-Qur'an dan Al-Hadits. Karena merekalah sumber dari ilmu agama yang harus kita anggap pentung untuk dipahami.
- Pada realitasnya, kita belum menganggap bahwa ilmu agama itu penting. Buktinya, kita tidak memprioritaskan kegiatan kita sehari-hari untuk ilmu agama. Padahal firman Allah menjelaskan, akhirat jauh lebih utama dibanding dunia. Tidak sedikit juga dari kita yang tahu, bahwa ketika mengejat akhirat maka duniapun akan datang kepada kita. Maka, pola pikir kita harus menganggap bahwa ilmu agama itu penting guna bekal keakhiratan kita.
- Ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, berkat siapakah itu? Jika menganggap berkat diri kita yang melakukannya, gagal pahamlah kita. Sesungguhnya semua hal yang terjadi adalah atas kekuasaan Allah. Baik kebahagiaan maupun kesengsaraan. Inilah salah-satu bahaya jika tidak memprioritaskan ilmu agama.  Kita tidak akan tahu bahwa Allah itu Maha Kuasa. Akibatnya, kita akan menyombongkan diri ketika berhasil dan akan putus asa ketika gagal.
- Manuaia itu pasti berubah, masalahnya ke arah mana perubahan tersebut. Bila saja kita memprioritaskan ilmu agama, kita akan senantiasa berada di dalam jalur Kajian Islam. Kita tidak akan berani meninggalkannya, malah ilmu kita akan terus bertambah. Sebuah riwayat mengatalan bahwa ilmu itu yazidu wa yankusu. Jika prioritas kita ilmu agama, maka ketika iman kita turun kita akan kembali ke kajian Islam. Sebaliknya, jika tidak kembali pada kajian Islam, maka kita akan dilumat kesenangan dunia seperti game, film, mabuk, judi, dan lain sebagainya. Ini yang terjadi ketika tidak memprioritaskan ilmj agama, prioritas kita menjadi tak terarah sehingga digerus generask tik tok.
- Ketika do'a kita tidak cepat diijabah oleh Allah, maka ada dua kemungkinan. Pertama adalah karena dosa-dosa kita, maka solusinya adalah bertaubat. Kedua Allah sengaja menunda do'a kita agar kita senantiasa dekat dan berdo'a kepada-Nya. Karena sebenarnya itulah inti dari do'a, yaitu kita dekat dengan amal dan ucapan zikir kita pada-Nya.
- Kita tidak memprioritaskan ilmu agama karena kita tidak merasakan manfaatnya secara langsung. Padahal, semua hal di dunia tidaklah lepas dari ilmu agama. Ilmu agama tidak kita kejar karena karena tidak dianggap sebagai solusi dari setiap masalah. Berbeda dengan bimbel yang dikejar walau sampai larut malam, karena manfaatnya terasa ketika lebih pandai dalam mengerjakan soal. Padahal, bisa mengerjakannya itu oleh ilmu agama, bukan karena bimbel. Karena ilmu agama adalah petunjuk hidup yang Allah siapkan, melalui Al-Qur'an dan Hadits.
- Kita tidak mungkin hidup tanpa adanya petunjuk. Ibarat tersesat di negeri orang, kita tidak akan pernah tahu jalan pulang tanpa adanya peta. Tanpa peta tersebut kita tidak akan sampai pada tujuan. Begitupun hidup di dunia ini, Al-Qur'an dan Al-Hadits adalah petunjuk yang Allah persiapkan bagi manusia. Sedangkan, bagaimana cara kita untuk bisa memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits jika tidak memiliki ilmunya, yaitu ilmu agama. Peta saja ada petinjuk pemakaiannya, apalagi ini firman Allah. Petunjuk hidup kita bersumber dari sana, maka ilmu agama adalah rincian dan penjelasannya. Maka hendaklah dijadikan sebagai pedoman dalam berjalan melalui ilmu agama tersebut. Agar kelak kita bisa hidup sesuai dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Namun bagaimana kita bisa memahami pedoman itu bila mencarinya saja masih malas, ketika kita tidak memprioritaskannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar