Review Kaila 5 Days - Hari Kelima
- Manusia melakukan suatu perintah itu bukan karena perintahnya, melainkan karena siapa yang memerintahkannya. Contohnya, ketika seorang Mahasiswa ketika diberi tugas oleh dosennya untuk mengerjakan seratus soal sekalipun, maka niscaya ia akan mengerjakannya. Meskipun dengan rasa terpaksa karena ia merasakan beratnya tugas tersebut, namun pada akhirnya ia akan menerimanya karena ia tahu kehendak dosen itu sangat berpengaruh dalam karir kuliahnya. Maka tidak jarang ada orang yang melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan, namun ia mengerjakannya. Padahal hakikatnya, manusia itu pasti lebih mengutamakan untuk mengerjakan perintah atau keinginan diri sendiri. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita merasa berat untuk mengerjakan sholat, karena kenginan kita adalah santai-santai dan bermalas ria. Namun ketika kita tahu siapa yang memerintahkannya apalagi mengenalinya, kita akan bisa menyingkirkan keinginan kita itu yang merupakan bagian dari nafsu kita untuk kemudian kita mengerjakan sholat dengan ikhlas. Namun, bagaimana caranya untuk mengendalikan nafsu adalah dengan memahami ilmu agama dan membentenginya dengan pola pikir yang kuat. Jadi benar, bahwa kita ini mengerjakan sesuatu bukan karena perintahnya, namun siapa yang memerintahkannya. Tidak heran pula ketika muncul perintah atas kenginan seseorang sedangkan ia sendiri tahu itu dosa, ia tetap mengerjakannya. Karena pola pikirnya mengatakan bahwa perintahnya sendirilah yang akan membahagiakan dia, sedang ia tidak mengenal sang Maha Pemberi Kebahagiaan. Jika saja pola pikir kita bersesuaian dengan apa yang Allah perintahkan, maka hidup kita akan sempurna.
- Perintah Allah sebenarnya akan sesuai apa yang manusia butuhkan, karena kita adalah ciptaan-Nya sedangkan seorang Pencipta pasti tahu apa-apa saja mengenai seluk beluk ciptaannya. Namun manusia sendiri tidak tahu, yang ia miliki hanya nafsu yang perlu dikendalikan, yaitu oleh akal atau lebih tepatnya melalui pola pikir kita. Kita tidak menyadari itu, maka akan berbahaya bagi kita ketika pola pikir kita tidak bersesuaian dengan apa yang Allah inginkan. Karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita harus kerjakan.
- Kita akan senang mengerjakan suatu perintah ketika kita menyenangi siapa yang memerintahkannya. Malah yang awalnya ia tidak menyukai perintah itu, justru malah bersemangat untuk mengerjakannya. Contohnya ketika seorang lelaki yang diminta untuk menjemput seorang wanita, sedangkan kebetulan ia menyukainya, maka hujan badai, banjir gelap pun akan ia lalui demi kesenangan yang sebenarnya menyusahkan dirinya sendiri. Karena yang diinginkannya hanya satu, yaitu dekat dengan wanita itu. Maka di sinilah kata kuncinya, ketika kita ingin dekat kita pasti akan berani melakukan apapun, meskipun hal itu tidak kita sukai. Maka motivasi para ulama untuk tetap giat beribadah adalah senang ketika ia dekat dengan Allah. Masalahnya, sebelum senang atau cinta itu harus dekat terlebih dahulu. Dan kita tidak bisa dekat sebelum mengenalinya. Kita bisa mengenali Allah melalui ilmu agama. Maka dari itu, ilmu agama adalah titik utama dimana kita bisa mengenali, mendekati, dan mencintai Allah. Sebenarnya, banyak syarat mengenai hal itu. Namun syarat utamanya adalah sesuai dengan ilmunya, seirama dengan permasalah no 2 tadi. Bahwa ilmu yang didapatkan haruslah terstruktur dan sistematis.
- Semakin kita mengenali Allah dengan ilmu, semakin kita akan senang menjalankan perintah Allah. Karena kita semua tahu bahwa Allah itu tuhan kita, tapi kita tidak tahu Allah itu seperti apa. Maka kita harus mengenali-Nya agar kita metakini-Nya juga semua perintah-Nya, yakni kembali dengan ilmu agama, dam memprioritaskannya sesuai dengan apa yang dibahas di permasalahan no. 1. Kemudian ilmu itu harus terstruktur dan sistematis, barulah permasalahan no. 3 ini dapat terpecahkan dan sedikit demi sedikit mengenali-Nya.
- Manusia tidak memiliki hak sedikitpun terhadap Allah. Tapi sebaliknya, Allah memiliki hak sepenuhnya atas makhluk. Inilah bahayamya ketika kita tidak mengetahui, kita justru seperti memerintah Allah untuk mengijabah do'a kita. Buktinya, ketika do'a kita tidak kunjung diijabah, kita merasa emosi. Padahal sebaliknya pula, Allah menyuruh kita untuk berdo'a kepadanya karena kita tidak bisa melakukan apapun.
- Tidak ada yang lebih menyayangi suatu barang selain pemiliknya. Tidak mungkin pencipta mencaci apalagi merusak ciptaannya. Makanya ketika kita membunuh seorang makhluk-Nya yang tak berdosa, maka sama dengan kita telah membunuh semua makhluk. Intinya, Allah saja tidak suka bila makhluknya disakiti. Oleh karena itu, Allah memberikan petunjuknya. Makanya, orang yang tidak menaati perintah Allah pasti akan sengsara. Itulah keadilan yang diberikan Allah. Berbeda dengan menaati perintah keinginan kita sendiri, belum tentu hal itu akan melindungi kita, atau menyelamatkan dan membahagiakan kita. Justru apapun pemberian Allah kepada kita meski tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, harus kita syukuri karena Allah tahu yang paling tepat bagi makhluk-Nya. Meskipun janji Allah yang akan mengabulkan do'a makhlukNya, tetaplah itu hanya sebuah jalan yang Allah buat agar manusia sadar dan hanya meminta kepadaNya, masalah jadi atau tidaknya itu keputusan Allah, malah agar manusia lebih dapat mendekati-Nya dengan semakin panjangnya wirid dan dzikir yang ia ucapkan. Wallahu a'lam.